radioAKTIF
Zat Radioaktif di 300 RS Dicek Ulang
Maret 6, 2008
Oleh karena kondisi kerusakan tersebut rentan dan membawa dampak buruk pada masyarakat, Badan Pengendalian Tenaga Nuklir (Bapeten) Jakarta akan mengecek beberapa peralatan kedokteran itu.
Kepala Biro Hukum dan Organisasi Bapeten Jakarta Guritno Lokollo kepada SH di sela-sela pembagian bantuan sembako pada korban banjir Petamburan, Senin (5/2) sore, mengatakan dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan pemeriksaan x-ray dan zat radioaktif di 300 rumah sakit pemerintah dan swasta serta klinik di Jakarta.
Dia menyatakan dugaan bencana banjir telah mempengaruhi kondisi alat-alat kedokteran tersebut sehingga peralatan tersebut dikhawatirkan rusak. Sebab banjir masuk ke dalam ruang penyimpanan x-ray dan zat radioaktif.
“Bila x-ray dan zat radioaktif tersebut rusak, itu membawa dampak buruk kepada manusia. Sebagai contoh, zat radioaktif yang bocor dari tabungnya tanpa disadari dapat merusak kulit sehingga menyebabkan penyakit gatal-gatal yang menahun hingga mengakibatkan kanker,” katanya.
Di samping itu, kerusakan gen dan sel juga salah satu dampak yang dirasakan apabila terkena zat radioaktif tersebut. Sesuai aturan dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Tenaga Nuklir, ruangan penyimpanan peralatan harus dijaga dan dirawat dengan ketat. Ruangan khusus ini harus ditutup dan terkunci rapat. Ada penjaga yang paham terhadap penanganan di ruangan zat radioaktif.
Kendati demikian, Guritno Lokollo tidak menyangkal jika prosedur penyimpanan alat tersebut tidak dilakukan dengan benar.“Kita tidak hanya memantau kondisi peralatan yang rusak karena banjir saja. Akan tetapi, kita juga memantau rumah sakit dan klinik yang tidak melakukan prosedur penggunaan dan penyimpanan zat radioaktif sebagaimana seharusnya,” ujarnya.
Pihaknya juga akan memantau prosedur pemasangan lampu peringatan di ruangan operasi. Jika ada kegiatan operasi yang dilakukan tanpa memasang lampu, pihaknya tidak segan-segan memberikan sanksi administrasi teguran kepada rumah sakit tersebut.
Sementara itu, Kepala Bagian Kerja Sama dan Humas Bapeten Aries Setyarto mengatakan tidak sedikit rumah sakit yang melanggar aturan tersebut. Kendati enggan menyebutkan datanya secara terperinci, Aries mengakui sejumlah rumah sakit di Jakarta ada yang menyalahi aturan
Cellphone deteksi teroris?!
Cellphone untuk deteksi teroris?!
Tepat seperti yang dikatakan schneier, riset ini sangat cerdas. Memanfaatkan jaringan cellular untuk mendeteksi keberadaan sinyal radioaktif dari bom. Saat ini pengguna cellphone semakin membludak, di Indonesia sendiri hampir setiap lapisan masyarakat memiliki telpon selular. Mulai dari kalangan atas hingga para penjual makanan pinggir jalan sudah menggunakan telepon selular. Saat ini kita juga bisa melihat munculnya berbagai macam pengembangan mobile phone yang semula hanya digunakan untuk komunikasi voice, diantaranya untuk teknologi internet (IP), teknologi GPS (Global Positioning System) yang digunakan untuk memetakan suatu lokasi receiver, dan bahkan penambahan chip pada mobile phone agar dapat menerima sinyal televisi dan radio.
Jika kita berbicara mengenai tracking system mungkin dapat membayangkan seperti dalam film Enemy of the states, kemanapun orang tersebut pergi dapat dilacak keberadaannya. Dalam film tersebut tracking system menggunakan beberapa perangkat, diantaranya alat pelacak dedicated yang ditempel pada target, camera system, public telephone hingga pada teknologi satelite. Tracking system tersebut dapat dilakukan hanya terbatas pada lokasi tertentu yang mendukung adanya perangkat-perangkat tersebut, bagaimana jika tracking system hendak dilakukan di-negara lain?dimana ketersediaan perangkat-perangkat pendukung tidak memadai?misalnya: iran, pakistan, indonesia (WTF?!).
Tentu saja membangun infrastruktur seperti itu akan sangat mahal dan merepotkan. Walaupun saat ini di hampir setiap negara sudah diberlakukan berbagai macam policy yang ujungnya adalah untuk kebutuhan tracking system. Internet sudah banyak dikuasai oleh pemerintah yang bercokol melalui aturan-aturan ketat pada ISP, PSTN serta operator-operator selular juga sudah dipaksa memberlakukan system tracking melalui aktivasi perangkat untuk menyadap komunikasi, komunikasi VOIP sudah disadap, dll. Namun semuanya masih dapat dilewati jika sang target tidak menggunakan teknologi tersebut. Dibutuhkan suatu mekanisme dimana tracking system memanfaatkan elemen yang tersebar diseluruh penjuru dunia untuk melacak sesuatu.
Jika kita bertanya, perangkat digital apa yang tersebar luas dimasyarakat dan terkoneksi satu sama lain?!tentu saja jawabannya adalah telepon sellular. Tracking system memanfaatkan telepon selular secara aktif sudah dilakukan, pelacakan posisi seseorang berdasarkan mobile station yang dibawanya dapat dengan mudah dilakukan. Namun tracking system yang lebih canggih dapat memanfaatkan telepon selular secara pasif, tepat seperti yang dilakukan group research dari purdue tersebut untuk mendeteksi kebaradaan teroris pembawa bom (sinyal radioaktif). Teknologi ini memanfaatkan manusia untuk melacak keberadaan sinyal radioaktif, bahkan jika si pembawa bom sedang minum teh disuatu desa dan kebetulan si penjual teh memiliki telepon selular keberadaan si pembawa bom dapat dilacak dengan tepat.
Saya rasa penemuan ini merupakan titik awal inovasi lain pada tracking system, saat ini hanya sinyal radioaktif yang dapat di-tracking. Pada pengembangan selanjutnya tentu saja dapat dimanfaatkan untuk hal yang lain dan mungkin saja dengan cara pemasangan suatu backdoor pada telepon selular (oleh vendor atas desakan pemerintah) atau aplikasi telpon selular tersebut, misalnya: untuk setiap hasil photo suatu telepon selular secara diam-diam dikirimkan gambarnya ke pusat monitoring, pada keypad telepon selular disertai chip untuk mendeteksi sidik jari yang secara diam-diam juga dikirimkan ke pusat monitoring (iPhone guys?!), dsb.
Intinya, pemanfaatan perangkat telepon selular yang sudah menyebar luas diseluruh lapisan masyarakat sebagai infrastruktur untuk tracking system (layaknya kamera pengawas yang tersebar di berbagai penjuru) merupakan solusi yang sangat cerdas dan efisien. Dan sebagai informasi, saat ini negara-negara belum berkembang dan negara-negara berkembang sangat tinggi pertumbuhan penggunaan telepon selularnya. Termasuk negara-negara seperti pakistan, iran, vietnam dan negara-negara kawasan afrika seperti aljazair, tunisia, dsb.
Ironis ya, sementara negara-negara maju sudah memikirkan konsep tracking system seperti ini, negara-negara berkembang dan negara-negara tertinggal lainnya masih menikmati telp murah tiap malam, sms-an gaul dan yang lebih parah lagi…menggunakan pulsa telp selular untuk mengadu nasib dan keberuntungan melalui REG-spasi-XXX (indo style?)
Semakin jelas bahwa telekomunikasi dapat digunakan untuk menguasai informasi. Dan barangsiapa yang menguasai informasi, akan menguasai dunia.
-
Recent
-
Links
- WordPress.com
- WordPress.org
- juwi
- WIKIPEDIA
- ILMU KOMPUTER
- Binsus Tomohon
- mner jendry
- geboy
- ikha mawuntu
- conny wagey
- andrey kumiang
- mercy koyongian
- enchin linelejan
- claudia larissa
- harlye tangkere
- angela warouw
- angela warouw
- izzac tangkudung
- vicky tenda
- tya walewangko
- zindy pomantow
- dian koesryanto
- ia moningka
- mnc-comics
- nona,,
- john leorens
- filly kilis
- novita mangelep
-
Archives
- March 2008 (13)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS