santi kristine

le+zz be Be+T3R

KOMPAS

Laporan Wartawan Kompas Adithya Ramadhan

JAKARTA, KOMPAS – Pemanasan global dikhawatirkan berdampak pada perubahan kondisi lingkungan yang akan menjadi media untuk munculnya berbagai penyakit. Hal ini juga akan meningkatkan penyebaran penyakit sehingga bisa menurunkan kualitas kesehatan masyarakat.
“Indonesia termasuk negara yang akan menerima dampak besar perubahan iklim akibat pemanasan global. Ini harus segera diantisipasi,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Fachmi Idris, Selasa (13/11), dalam diskusi publik di Jakarta. “Perubahan iklim berdampak bencana alam, seperti banjir yang menimbulkan masalah kesehatan,” tuturnya.
“Peningkatan suhu bumi membuat jantung bekerja lebih keras mendinginkan badan dan meningkatkan kasus asma serta kanker kulit,” kata Guru Besar Universitas Indonesia Prof Umar Fahmi Achmadi.
Kenaikan suhu bumi juga bisa meningkatkan angka kasus penyakit dengan vektor nyamuk, seperti malaria, demam berdarah, chikungunya, Japanese encephalitis (radang otak), dan filariasis lantaran perubahan bionomik nyamuk. Dalam suhu meningkat dengan kelembaban tertentu, nyamuk semakin beringas dan ingin kawin.
Jika suhu meningkat tiga derajat Celsius, diperkirakan kasus penularan penyakit melalui nyamuk meningkat dua kali lipat. Area penularan melebar ke negara subtropis yang semula nyamuk enggan bermukim. Hal serupa terjadi pada tikus.
Untuk itu, PB IDI akan membentuk satuan tugas khusus (task force) guna mengoptimalkan peranan dokter meningkatkan kesadaran publik, masalah perubahan iklim bukan hanya urusan lingkungan, tetapi juga menyangkut masalah kesehatan.
Presiden di Bali
Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat peresmian Bali Safari and Marine Park dan Museum Rahmat serta Taman Hewan Pematang Siantar, Medan, Selasa (13/11) di Bali Safari and Marine Park, Jalan Prof Dr IB Mantra, Km 19,8, Gianyar, Bali, menegaskan, persoalan lingkungan bukan hanya dihadapi Indonesia, tetapi juga umat manusia di belahan dunia mana pun. “Jika tidak mampu mengelola lingkungan dengan baik, yang nantinya merasakan umat sedunia,” katanya.
Ikut hadir dalam acara itu, di antaranya Ibu Negara Kristiani Herawati, Menteri Kehutanan MS Kaban, Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, Gubernur Bali Dewa Beratha, dan Ketua Umum Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia Rahmat Shah.
Yudhoyono akan memperjuangkan penyelamatan bumi, khususnya dengan menggunakan hutan tropis, saat Konferensi Para Pihak Ke-13 pada Konferensi Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim di Bali, 3-14 Desember mendatang. Ia mengajak masyarakat Asia dan Amerika Latin agar bersama dengan masyarakat global menyelamatkan hutan.

March 13, 2008 - Posted by santipangemanan | Uncategorized | | No Comments Yet

No comments yet.

Leave a comment